Berdiri 10 November 1966 · Piagam AMS
Organisasi kemasyarakatan yang menghimpun kader muda maupun tua secara sukarela, mengemban semangat Angkatan 66 dan cita-cita Sumpah Pemuda — diteruskan hingga kini di tingkat kampung Pakusarakan.

Sejarah Singkat
AMS berdiri pada 10 November 1966, ditandai penandatanganan Piagam AMS — bertepatan dengan Hari Pahlawan sekaligus peringatan Isra Mi'raj. Kelahiran ganda ini dimaknai kader AMS sebagai pengingat untuk melestarikan semangat kepahlawanan sekaligus memegang teguh keimanan.
Organisasi ini lahir dari keinginan generasi muda saat itu untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman terhadap bangsa, menegakkan kehidupan berbangsa yang demokratis, dan membentuk kepemimpinan nasional yang jujur, cerdas, dan bertanggung jawab kepada rakyat.
Nama Siliwangi dipilih sebagai simbol keberanian dan kewaspadaan, dihimpun dari desa hingga kota dalam satu wadah bernama Angkatan Muda Siliwangi — yang tujuannya tercantum jelas dalam Anggaran Dasar: mewujudkan cita-cita Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Landasan Organisasi
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 — setiap gerak AMS harus menjunjung tinggi persatuan bangsa dan keberanian moral yang dirintis kedua peristiwa tersebut.
Silih Asih – Silih Asah – Silih Asuh. Anggota AMS beragam, dari pemuda gembala hingga sarjana, namun disatukan oleh rasa kebersamaan dan kesamaan derajat.
Membangun dan mengembangkan organisasi sebagai organisasi kader dalam rangka menciptakan kader bangsa.
Membina potensi dan militansi AMS untuk mewujudkan masyarakat yang adil, sejahtera, dan demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Menggalang solidaritas sesama kaum muda Indonesia dan memperkokoh persatuan serta kesatuan bangsa.
Falsafah Kader
Beriman dan bertakwa, menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945, serta memegang teguh dan melaksanakan hasil musyawarah yang telah disepakati.
Berani berinisiatif pada hal-hal positif, berjiwa pembaharu, berdisiplin, bekerja keras, dan bertanggung jawab atas setiap perbuatan.
Saling menghormati sesama — cinta keluarga, cinta sesama anggota, cinta budaya bangsa, serta menjaga persatuan dan kesatuan.
Berbudi pekerti luhur, jujur, adil, dan sederhana; senantiasa cerdas, berilmu, dan kritis dalam menyikapi persoalan.
Falsafah & Semboyan
Berarti "pageuhan lemah cai" — pertahankan Tanah Air. Pertama kali diucapkan para perintis AMS di Kampung Pakusorok, Kabupaten Bandung, 21 November 1965. Setiap kader berkewajiban menjaga dan mencintai Tanah Air, bangsa, dan rakyat Indonesia.
Shalat – Silat – Siliwangi, dianalogikan dengan Iman – Ilmu – Amal. Moto ini dipakai sejak masa perintisan AMS, mewakili tiga dimensi kader: keimanan, ketangguhan akal budi, dan pengabdian.
Digubah oleh Drs. Wahyu Wibisana dari syair dan seni budaya Sunda, dikumandangkan pada pembukaan acara resmi organisasi sebagai pengingat semangat dan misi berdirinya AMS.
Kegiatan
Kaderisasi dan kerja nyata di tingkat rayon dan kampung.
Pembinaan Catur Watak Utama bagi kader baru AMS Pakusarakan.
Forum pengambilan keputusan organisasi secara musyawarah mufakat.
Menjaga keamanan dan kebersihan kampung bersama warga setempat.
Mengenang 10 November sebagai hari lahir sekaligus semangat pendirian AMS.
Bergabung
Tidak perlu pengalaman berorganisasi. Isi formulir singkat, dan sekretariat AMS Pakusarakan akan menghubungi lewat WhatsApp dalam 2×24 jam.